Qurban Kaleng, Apakah Diperbolehkan?

Akhir-akhir ini marak menyebarkan daging kurban dalam bentuk kornet, rendang dan lainnya. Bagaimanakah hukumnya?

Momentum Idul Adha adalah waktu yang sangat tepat untuk semua umat muslim ikut berbagi makanan bagi masyarakat yang membutuhkan melalui ibadah qurban. Menyembelih hewan qurban adalah sunnah muakkad sebagai bentuk kita meneladani ketaatan Nabi Ibrahim a.s kepada Allah SWT.

Dengan semakin canggihnya tekhnologi pengolahan makanan pada zaman sekarang ini membuat marak berbagai inovasi yang dilakukan berbagai pihak untuk mengolah daging kurban dalam bentuk kornet, sosis, dendeng, redang dan lain sebagainya.

Sebagian besar alasan dilakukan pengawetan daging kurban ini adalah untuk menjangkau sasaran penerima kurban yang jaraknya jauh ke pelosok desa hingga daerah terpencil.

Lantas bagaimana pendapat para ulama dalam tinjauan hukum fiqih menyikapi inovasi seperti ini mengingat syariat kurban berbeda dengan aqiqah yang pembagian dagingnya harus dalam bentuk masakan matang.

Mengutip Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 37 Tahun 2019 Tentang Pengawetan Dan Pendistribusian Daging Kurban Dalam Bentuk Olahan, dengan beberapa tinjauan sebagai berikut :

Pada prinsipnya daging kurban disunnahkan untuk:

  1. Didistribusikan segera (ala al-faur) setelah disembelih agar manfaat dan tujuan penyembelihan hewan kurban dapat terealisasi yaitu kebahagian bersama dengan menikmati daging kurban.
  2. Dibagikan dalam bentuk daging mentah, berbeda dengan aqiqah.
  3. Didistribusikan untuk memenuhi hajat orang yang membutuhkan di daerah terdekat.

Menyimpan sebagian daging kurban yang telah diolah dan diawetkan dalam waktu tertentu untuk pemanfaatan dan pendistribusian kepada yang lebih membutuhkan adalah mubah (boleh) dengan syarat tidak ada kebutuhan mendesak.

Atas dasar pertimbangan kemaslahatan, daging kurban boleh (mubah) untuk:

  1. Didistribusikan secara tunda (ala al-tarakhi) untuk lebih memperluas nilai maslahat.
  2. Dikelola dengan cara diolah dan diawetkan, seperti dikalengkan dan diolah dalam bentuk kornet, rendang atau sejenisnya.
  3. Didistribusikan ke daerah di luar lokasi penyembelihan.

 

Namun sebelum adanya fatwa MUI tersebut pada zaman dahulu telah ada pembahasan serupa dengan masalah tersebut yaitu:

 

Salamah bin Al-Akwa berkata: Nabi SAW bersabda, ”Siapa yang menyembelih qurban maka jangan ada sisanya sesudah tiga hari di rumahnya walaupun sedikit.” Tahun berikutnya orang-orang bertanya: “Ya Rasulullah apa kami harus berbuat seperti tahun lalu?” Nabi SAW menjawab, ”Makanlah dan berikan kepada orang-orang dan simpanlah sisanya. Sebenarnya, tahun lalu banyak orang yang menderita kekurangan akibat paceklik, maka aku ingin kalian membantu mereka” [HR Bukhari No.569, Muslim No.1974].

Dari hadits tersebut, bisa disimpulkan bahwa kita diperbolehkan menyimpan sebagian daging qurban untuk disalurkan kemudian sesuai kebutuhan di masyarakat.

Setelah kita melihat beberapa pendapat ulama dan fatwa diatas maka, hal tersebut merupakan bentuk inovasi baru dalam hal berkurban. Pengelolaan dan pengemasan daging hewan qurban merupakan inovasi yang sangat efektif dilakukaan saat ini.

Beberapa kondisi di masyarakat yang terjadi saat ini di antaranya:

  1. Qurban saat ini lebih banyak terpusat di kota-kota sementara banyak daerah pinggiran dan pelosok yang sama sekali tidak ada pequrban di sana.
  2. Karena qurban terpusat di kota-kota besar, sehingga menjadikan ketidakmerataan distribusi yang mengakibatkan dagiing qurban berlebih di beberapa orang yang berpotensi terbuang atau dijual.
  3. Kondisi Covid-19 sangat tidak memungkinkan untuk kita melakukan penyembelihan qurban secara langsung karena akan mengakibatkan kerumunan massa.

Melihat kondisi yang terjadi pada hal saat ini, kurban kaleng adalah solusi alternatif pilihan dalam berkurban.

Wallahu A’lam Bisshowaab..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *