Kaya Semakin Kaya, Miskin Semakin Miskin

Indonesia merupakan negara peringkat ke-4 terhadap jumlah kependudukan terbesar di dunia, dimulai dari Tiongkok, India, Amerika Serikat, dan Indonesia. Data terakhir jumlah kependudukan di Indonesia sendiri sudah mewakili 3,51% atau sebesar 267,7 juta dari keseluruhan kependudukan yang ada di Dunia. Sedangkan kemiskinan yang ada di Indonesia pada bulan Maret 2019 sebesar 25,14 juta penduduk (Data BPS).

Banyak masyarakat kita yang menganggap dirinya sudah takdir dilahirkan dari keluarga yang miskin ataupun sudah kaya dari lahir, bahkan ada untaian kata yang menganggap “kaya hingga 7 turunan”, masyaAllah. Sebagai contoh dibidang pendidikannya, saudara kita yang menganggap dirinya terlahir dari keluarga yang miskin dia akan bersusah payah untuk mencari suatu beasiswa yang ada di sekolah-sekolah atau Universitas yang disekitar tempat tinggalnya. Jika suatu saat beasiswa mereka dicabut dari tempat dimana ia menempuh pendidikan, akan kemana lagikah mereka mencari beasiswa?

Berbeda dengan masyarakat yang menganggap dirinya terlahir dari keluarga yang kaya, mereka tidak perlu lagi risau mencari beasiswa dan lain-lain, karena mayoritas dari mereka menganggap bahwa tidak perlu lagi adanya beasiswa, karena sudah mampu untuk menempuh pendidikannya sendiri melalui kekayaan yang diperoleh dari orangtuanya dan bisa menjadikan investasi besar untuk kehidupan mereka kedepannya. Sungguh ironis bukan?

Beginilah yang dirasakan oleh saudara kita yang kurang mampu, bahasa kasarnya “boro-boro untuk sekolah, untuk bisa makan sehari-hari saja sudah Alhamdulillah”.

Dalam hal ini kita bisa ambil hikmahnya yaitu:

  1. Roda kehidupan akan terus berputar, jangan lah bersikap angkuh terhadap suatu takdir yang diperoleh, bersyukurlah. Karena suatu saat kita akan berada diatas dan akan merasakan pahitnya berada dibawah
  2. Selain itu, kita bisa membantu saudara kita yang mengalami kesulitan didalam finance dengan cara sedekah, infaq, zakat dan lainnya.

Dalam Islam mengeluarkan zakat merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang mampu dan telah memenuhi syarat dan ketentuan syari’at Islam Bahkan zakat masuk dalam rukun Islam yang kelima. Tidak dapat dipungkiri bahwa zakat sangat berpotensi sebagai sarana yang efektif memberdayakan ekonomi umat.

Allah SWT dengan tegas menetapkan adanya hak dan kewajiban antar dua kelompok kaya dan miskin dalam pemerataan distribusi harta kekayaan, yaitu dengan mekanisme zakat, sehingga terwujud keseimbangan kehidupan sosial manusia itu sendiri akan tercapai serta akan menghapus rasa iri dan dengki yang mungkin timbul dari kelompok yang kurang mampu. Selain itu di dalam harta orang-orang kaya sesungguhnya terdapat hak orang-orang miskin. Zakat bukanlah masalah pribadi yang pelaksanaannya diserahkan hanya atas kesadaran pribadi, zakat merupakan hak dan kewajiban.

Baca juga :

Ternyata ini beda antara zakat infaq dan sedekah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *